Sejarah Tsunami

Secara harfiah Tsunami adalah ombak besar yang terjadi di daerah pantai. Ombak besar atau gelombang laut adalah akibat dari adanya pergerakan atau pergeseran di dasar laut. Perubahan tersebut disertai dengan adanya perubahan permukaan laut, yang seterusnya menjalar ke segala penjuru permukaan laut secara serentak.

Ombak besar tersebut disebabkan karena gempa bumi, gempa laut, gunung berapi meletus, dan jatuhnya meteor di laut. Pada waktu terjadi tsunami gelombang bergerak dengan kelajuan tinggi, hampir tidak dapat dirasakan oleh kapal laut yang sedang berjalan ditengah laut. Hanya posisi air disekitar kapal mengalami peningkatan ketinggian bisa sampai setinggi 20 – 50 meter dari kedudukan semula. Tsunami akan menimbulkan kerusakan daerah di sepanjang pantai dimana kekuatan sumber penyebab Tsunami berada. Pengaruh Tsunami bisa sampai ribuan kilometer, tergantung kekuatan sumbernya.

Kota-kota di tepi Samudra Pasifik biasanya sudah mempunyai alat deteksi terjadinya Tsunami, sehingga sudah ada peringatan dini dan petunjuk apa yang harus dilakukan bila terjadi Tsunami.

Indonesia dikenal sebagai Negara yang kaya bencana gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api. Meletusnya gunung Krakatau di Selat Sunda pada tanggal 27 Agustus 1883 menjadi sejarah bencana yang terbesar di dunia.

Gempa di Aceh pada 26 Desember 2004 juga membuktikan ancaman alam yang tetap besar. Tsunami yang diakibatkan gempa berskala 8,7 pada skala Richter di Barat Aceh dan oleh dua gempa besar di Kepulauan Nikobar dan Andaman, India yang menewaskan 150.000 penduduk di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan.

Gerakan vertical pada kerak bumi menyebabkan pergeseran naik ataupun turun, pergeseran tersebut akan mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang berada diatasnya. Akibatnya akan terjadi aliran energi laut, energi aliran air laut tersebut bila sampai di daerah pantai akan menjadi gelombang besar yang menyebabkan terjadinya Tsunami.

Cara menyelamatkan diri dari Tsunami.
a. Bila berada di tepi sungai (muara) di pinggiran pantai, segeralah berlari sekuat tenaga mencari daerah yang tinggi.
b. Kalau mungkin usahakan berada di daerah bukit.
c. Pergi ke tempat evakuasi yang telah ditentukan.
d. Carilah bangunan bertingkat yang kokoh (bertulang baja).

Tsunami adalah istilah dalam bahasa Jepang yang pada dasarnya menyatakan suatu gelombang laut yang terjadi akibat gempa bumi tektonik di dasar laut. Magnitudo Tsunami yang terjadi di Indonesia berkisar antara 1,5-4,5 skala Imamura, dengan tinggi gelombang Tsunami maksimum yang mencapai pantai berkisar antara 4-24 meter dan jangkauan gelombang ke daratan berkisar antara 50 sampai 200 meter dari garis pantai. Berdasarkan Katalog gempa (1629 – 2002) di Indonesia pernah terjadi Tsunami sebanyak 109 kali, yakni 1 kali akibat longsoran (landslide), 9 kali akibat gunung berapi dan 98 kali akibat gempa bumi tektonik. Yang paling mungkin dapat menimbulkan tsunami adalah : gempa yang terjadi di dasarkan laut, kedalaman pusat gempa kurang dari 60 km, magnitudo gempa lebih besar dari 6,0 skala Richter, serta jenis pensesaran gempa tergolong sesar naik atau sesar turun. Hal diatas yang memicu terjadinya tsunami di daerah Kepulauan Seram, Ambon, Kepulauan Banda dan Kepulauan Kai.

1

Gempa yang menimbulkan Tsunami sebagian besar berupa gempa yang mempunyai mekanisme fokus dengan komponen dip-slip, yang terbanyak adalah tipe thrust (Flores 1992) dan sebagian kecil tipe normal (Sumba 1977). Gempa dengan mekanisme fokus strike slip kecil sekali kemungkinan untuk menimbulkan tsunami.
Gelombang tsunami ini diperkirakan paling banyak menelan korban jiwa. Setidaknya korban meninggal di Aceh dan Sumatera Utara, serta beberapa negara Asia lainnya seperti Sri Lanka, India, dan Thailand telah mencapai ribuan orang.
Korban akibat gempa dan gelombang tsunami di Indonesia sendiri, hingga berita ini diturunkan, masih belum bisa dipastikan. Namun hingga pukul 17.30 WIB, Badan Koordinasi Nasional mencatat, ada sekitar 148 meninggal dunia. Sedangkan jumlah korban luka dan hilang belum diketahui.
Bencana gempa dan tsunami di Indonesia tidak hanya terjadi kali ini. Sebelumnya, peristiwa serupa telah terjadi berkali-kali dan menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit. Gelombang tsunami yang menyebabkan korban jiwa paling banyak dilaporkan saat terjadi peristiwa letusan gunung berapi Krakatau pada 1883. Saat itu diperkirakan 36 ribu jiwa meninggal akibat letusan gunung yang mengakibatkan ombak setinggi bangunan 12 tingkat. Ombak akibat letusan gunung yang terletak di Selat Sunda itu mencapai sekitar 120 kilometer dari pusat letusan.
Pasca meletusnya Krakatau, setidaknya sejak selama periode 1900-1996, setidaknya telah terjadi 17 bencana tsunami besar di Indonesia. Lima belas di antaranya terjadi di Kawasan Timur Indonesia, yang memang dikenal sebagai daerah seismotektonik aktif dan kompleks. Tsunami tersebut diakibatkan oleh aktivitas kegempaan yang terdapat pada zona-zona seismmotektonik aktif seperti zona subduksi, zona bukaan, dan zona sesar yang tersebar di hampir seluruh kepulauan di Indonesia.
Gelombang besar tsunami yang juga menelan korban yang tidak sedikit terjadi pada 19 Agustus 1977 di daerah Sumba. Dalam peristiwa ini sekitar 189 nyawa melayang. Lalu, peristiwa serupa terjadi pada 12 Disember 1992 di Flores. Gelombang besar ini mengakibatkan 2.100 nyawa melayang. Peristiwa tumpahnya air laut yan melanda kawasan Banyuwangi Jawa Timur pada 3 Juni 1994 menelan korban tewas hingga 208 orang. Lima bencana tsunami (Banda 1938, Sigli 1967, Bandanaira 1975, Sumba 1977, dan Banyuwangi 1994) itu diakibatkan aktivitas zona subduksi Sunda-Banda yang terletak memanjang dari Kepulauan Andaman sampai ke Laut Banda.
Aktivitas zona sesar naik yang terletak memanjang dari utara Bali sampai ke Alor menghasilkan tiga tsunami di Ende 1908, Larantuka 1982, dan Flores 1992. Tsunami-tsunami yang terjadi di Tinambung 1967, Sulteng 1968, Majene 1969, dan Mamuju 1984 diakibatkan aktivitas zona bukaan yang terletak di Selat Makassar. Aktivitas zona sesar Palu-Koro dan sesar Sorong yang melalui Palu, utara Pulau Buru sampai ke selatan Biak telah mengakibatkan empat bencana tsunami yang terjadi di Teluk Tomini 1938, Sana Maluku 1965, Sanana Maluku, 1975 dan Toli-Toli 1996.
Sementara itu tsunami yang terjadi baru-baru ini di Biak, diperkirakan akibat aktivitas sesar Sorong atau subduksi lempeng Carolina. Bencana tsunami yang terjadi di Indonesia diakibatkan gempa-gempa dangkal dan kuat yang terjadi di dasar laut. Gempa-gempa tersebut mempunyai kedalaman bervariasi antara 13 sampai 95 km, magnitudo 5,9 sampai 7,5 SR, intensitas gempa antara VII sampai IX dalam skala MMI (Mo-dified Mercalli Intensity), dan jenis pensesaran gempa yang dominan adalah sesar naik. Tinggi gelombang tsunami maksimum yang mencapai pantai berkisar antara empat sampai 24 meter, dengan magnitudo tsunami berkisar antara 1,5 sampai 4,5 dalam skala Imamura. Sementara itu, jangkauan gelombang tsunami ke daratan berkisar antara 50 sampai 200 meter dari garis pantai.
2
Indonesia Memang Rawan
Dalam 100 tahun terakhir pada periode 1901 -2000, tidak kurang dari 75 tsunami terjadi di Indonesia. Sebanyak 85 persen bencana tsunami itu atau 64 peristiwa terjadi di wilayah timur Indonesia. Bencana tsunami itu menyebabkan ribuan korban manusia, di antaranya adalah tsunami Flores 1992 (korban 2.100 orang), Banyuwangi 1994 (korban 238 orang), dan Biak 1996 (korban 160 orang).
Sejak tahun 1965 hingga 2000, Tsunami telah melanda sejumlah daerah di Indonesia yakni Seram, Maluku (1965); Tinambung, Sulawesi (1967); Tambu, Sulawesi (1968), Majene, Sulawesi (1969): Sumba (1977): Larantuka (1982); Flores (1992); Banyuwangi (1994); Palu (1996); Biak (1996); Taliabu, Maluku (1998); dan Banggai (2000).
Tsunami di Indonesia
Bencana gempa dan tsunami di Indonesia tidak hanya terjadi kali ini. Sebelumnya, peristiwa serupa telah terjadi berkali-kali dan menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit. Gelombang tsunami yang menyebabkan korban jiwa paling banyak dilaporkan saat terjadi peristiwa letusan gunung berapi Krakatau pada 1883. Saat itu diperkirakan 36 ribu jiwa meninggal akibat letusan gunung yang mengakibatkan ombak setinggi bangunan 12 tingkat. Ombak akibat letusan gunung yang terletak di Selat Sunda itu mencapai sekitar 120 kilometer dari pusat letusan.
Waspadai Tsunami Susulan
Masyarakat Indonesia, terutama yang bermukim di pesisir pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa, Nusa Tenggara, dan Banda, harus mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa dan gelombang tsunami susulan pascagempa tektonik berskala 8,9 Ritcher yang terjadi di Aceh. Gempa dan gelombang tsunami susulan ini bisa terjadi karena struktur lempeng yang ada di sebelah barat Sumatra itu masih belum stabil, sehingga masih dimungkinkan adanya pergerakan lempeng yang dapat menimbulkan gempa dan gelombang pasang.
Memahami Gempa dan Tsunami
Adakah tempat di Indonesia yang aman dari gempa bumi? Kecuali di Kalimantan yang relatif tenang, ternyata tidak ada wilayah di Tanah Air ini yang sepi dari getaran permukaan tanah itu. Menurut peta sejarah kegempaan yang dimiliki Badan Meteorologi dan Geofisika, gempa tektonik berskala besar dan kecil banyak melanda wilayah selatan dan barat Indonesia, mulai dari Nusa Tenggara hingga Sumatera. Begitu juga halnya Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua.
Sudah Pernah Diprediksi
Tim Mitigasi Bencana Bumi Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral Institut Teknologi Bandung (FIKTM-ITB) menyatakan gempa berkekuatan besar yang disertai dengan gelombang pasang dashyat (Tsunami) yang terjadi di Aceh Utara dan sebagian Sumatera Utara sebetulnya sudah diprediksi sebelumnya oleh para pakar gempa dan Tsunami di Indonesia.
Mitigasi Bencana Alam Tsunami di Indonesia
Indonesia sebagai negara kepulauan secara geologis rentan terhadap bencana alam pesisir. Tsunami adalah salah satu bencana alam yang senantiasa mengancam penduduk pesisir. Walaupun jarang terjadi, namun daya hancurnya yang besar membuatnya harus diperhitungkan. Tsunami umumnya disebabkan oleh gempabumi dasar laut. Sekitar 70% gempabumi tektonik terjadi di dasar laut yang berpotensial menyebabkan tsunami (tsunamigenik).
3
25 Daerah Rawan Gempa
Menyusul musibah tsunami di Aceh, ditengarai 25 daerah di Indonesia rawan terkena bencana gempa bumi. Daerah-daerah tersebut antara lain daerah kepala burung Papua, Nabire, Wamena, Banten-Pandeglang, Aceh, dan Sumatera Utara.
Antisipasi Gelombang Tsunami
Deteksi pertama terjadinya tsunami adalah begitu terasa ada getaran gempa disusul dengan turunnya muka air laut sehingga garis pantai bergeser secata tiba-tiba ke arah laut dalam ratusan meter (pantai barat Aceh sampai sekitar 1000 meter, Republika 27/12/04), kemudian secara tiba-tiba dalam hitungan menit terjadi gelombang raksasa menerjang pantai sampai jauh ke daratan. Gempa bumi tektonik tidak dapat dideteksi sebelumnya seperti gempa vulkanik dengan alat deteksi yang di tempatkan di setiap gunung, karena garis pertemuan lempeng-lempeng bumi sangat panjang dan dalam. Tidak mungkin menempatkan alat deteksi di sepanjang garis pertemuan lempeng benua, sehingga kemungkinan terjadinya gempa bumi tektonik hanya dapat dideteksi dari gempa yang pernah terjadi sebelumnya dalam periode tertentu. Itu pun belum dapat dijadikan patokan.

1. Telah terjadi gempa bumi besar yang diikuti tsunami hebat hari Minggu, 26 Desember 2004.
2. Badan Meteorologi dan Geofisiska menentukan pusat gempa di 2.9 LU – 95.6 BT, kedalaman 20 km, kekuatan 6.8 Skala Richter (body wave), sedangkan lokasi yang ditentukan oleh USGS 3.4 LU – 94.7 BT dengan kekuatan 8.1 SR (magnitude momen).
3. Tsunami ditimbulkan oleh gempa utama melanda P Nias, Banda Aceh, P Weh, Biruen, Lhok Seumawe, serta sebagian Pantai Timur Aceh. Tsunami juga melanda daerah pantai Negara-negara lain diantaranya: Malaysia, Thailand, Myanmar, Srilangka, India, Somalia, Maldives, Tanzania, Bangladesh, Seychelles, Maladewa, Cocos Island, Mauritius, dan Reunion (data USGS).
4. Gempa bumi ini diikuti gempa-gempa susulan dengan kekuatan bervariasi dengan magnitude 4 sampai dengan 6.2 SR, yang dapat ditentukan oleh BMG. Tsunami hanya ditimbulkan oleh gempa-gempa dangkal di bawah laut dengan magnitude diatas 6 SR. Untuk itu dapat disampaikan bahwa tsunami susulan di daerah Aceh sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi. Meskipun demikian masyarakat diminta tetap waspada.
5. BMG tidak pernah mengeluarkan statement akan terjadinya gempa bumi dan tsunami di daerah Jawa Barat dalam 2 minggu. Meskipun diketahui bahwa daerah Jawa Barat khususnya pantai selatan termasuk daerah rawan gempa dan tsunami namun belum ada ilmu dan teknologi yang dapat memprediksi akan terjadinya gempa bumi. Sehubungan dengan isu yang beredar tentang akan terjadinya gempa bumi dan tsunami di Jawa Barat dalam 2 minggu ini, dapat kami sampaikan hal tersebut TIDAK BENAR. Masyarakat diharapkan tetap tenang dan bisa menjalankan aktifitasnya tanpa rasa takut dan was-was, kendati kewaspadaan tetap harus dijaga.
6. Hari senin, 27 Desember 2004 telah dilakukan reanalislis terhadap gempa utama dengan memasukan data-data tambahan dari stasiun-stasiun BMG yang dilengkapi dengan seismograph broadband dan menghasilkan lokasi dan kekuatan sumber gempa sebagai berikut:
4
BMG
Waktu Gempa : 07.58.50,26 WIB
Espisenter : 3.05 LU-94.85 BT
Kedalaman : 20 km
Magnitudo Momen : 8.9 SR
Magnitudo Body : 6.8 SR

USGS
Waktu Gempa : 07.58.53.00 WIB
Espisenter : 3.26 LU-95.82 BT
Kedalaman : 30 km
Magnitudo Momen : 9.0 SR
Magnitudo Body : 6.4 SR

Peneliti tsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) DR Eko Yulianto mengaku penasaran pada cerita Nyi Roro Kidul, legenda yang menurut dia juga pernah dibahas dalam kongres paranormal di Paris pada 1980an.

Dalam pertemuan di Eropa itu, para paranormal umumnya tertarik pada fakta bahwa legenda itu berkembang di kalangan masyarakat sepanjang selatan Indonesia, bukan hanya pantai selatan Jawa. Suatu kawasan yang sangat panjang. Itu pula yang menjadikan peneliti “paleotsunami” (tsunami purba) itu penasaran pada legenda tersebut.

Menurut Eko, kawasan tempat mukim masyarakat yang mewarisi legenda Nyi Roro Kidul itu, yang dikenal sebagai kawasan pantai selatan, berhadapan dengan Samudera Indonesia, yaitu daerah zona subduksi lempeng bumi.

Subduksi ialah proses menghujamnya lempeng benua yang bermassa lebih besar ke lempeng benua yang ada di bawahnya. Proses subduksi yang berlangsung terus-menerus itu yang menciptakan negeri kepulauan Indonesia beserta kesuburannya.

Tapi, proses itu pula yang memberikan berbagai bencana, letusan gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami.

Dalam kaitan itu, Eko memperlihatkan lukisan Nyi Roro Kidul yang merekam legenda tersebut. Di sana digambarkan seorang ratu yang mengendalikan kereta kuda dalam balutan ombak besar yang bergulung-gulung.
“Jangan-jangan legenda itu sebenarnya pesan bahwa pernah ada tsunami di sana?” katanya.

5

Itu dikuatkan dengan legenda ratu pantai selatan tersebut yang digambarkan sering meminta tumbal dengan mengirimkan ombak besar jauh ke daratan. Kemudian, sebagian korbannya dikirim kembali ke darat sebagai pesan dari Nyi Roro Kidul. Persis kejadian tsunami.

Bagi Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Herry Harjono, mengaitkan legenda Nyi Roro Kidul dengan sejarah tsunami merupakan ide “aneh” yang berpotensi untuk mengungkap sejarah kejadian tsunami. Dia mengatakan, bantuan ilmuwan sosial untuk mengungkap asal-muasal legenda itu juga diyakini bisa membantu penelitian sejarah kejadian tsunami.

“Pikiran yang sekarang berkembang ialah, boleh jadi pernah ada kejadian besar yang sangat membekas masyarakat jaman dahulu. Kejadian itu terekam dalam legenda Nyi Roro Kidul,” katanya dalam sebuah workshop paleotsunami, di Bandung.

Persoalan yang ingin diungkap dalam paleotsunami, antara lain sejarah terjadinya tsunami dan berapa besarannya. Untuk itu, menurut Herry, ada pertanyaan yang ingin diungkap, “Kapan legenda itu mulai berkembang?”

Kisah seperti itu, misalnya, akan memperkuat hasil penelitian geologi yang mencari jejak tsunami purba. Misalnya mengenai bukti gempa dan endapan tsunami yang terjadi pada 400 tahun lalu di Cilacap dan Pangandaran yang diyakini jauh lebih besar ketimbang yang terjadi pada 2006.

Dalam sebuah poster yang dipamerkan di workshop disebutkan, empat kandidat endapan tsunami ditemukan di tebing sungai Cimbulan Pangandaran. Salah satunya berupa lapisan pasir tebal hingga 20 cm yang diendapkan di atas lumpur mangrove dan ditutupi endapan banjir.

Pasir itu mengandung cangkang “fora minifera” yang biasanya hidup di laut lepas. Analisis pentarikhan umur terhadap dua sampel yang diambil dari dua tempat berbeda menunjukkan lapisan pasir tsunami itu diendapkan 400 tahun lalu.

“Mungkinkah kejadian tsunami ini terkait dengan asal mula legenda Nyi Roro Kidul?” demikian pertanyaan dalam buku berjudul “Selamat dari Bencana Tsunami” yang berkisah tentang orang-orang yang sintas dari tsunami Aceh dan Pangandaran.

Buku itu juga membahas sejumlah cerita tradisional yang diyakini terkait dengan peristiwa tsunami.

Bagi Herry, dukung-mendukung ilmuwan sosial dan peneliti geologi itu suatu saat akan memberikan hasil yang bisa memberikan data untuk menjawab pertanyaan “seberapa sering tsunami terjadi di pantai selatan?”

Jawaban atas pertanyaan itu akan memberikan banyak konsekwensi, setidaknya bisa mengubah pandangan hidup masyarakat di kawasan itu bahwa mereka hidup dalam daerah yang rawan tsunami?

Kalau itu tercipta, maka masyarakat akan mudah diajak untuk hidup akrab dengan tsunami, mudah mengajak mereka untuk selalu bersiaga menghadapi bencana, hingga mudah untuk mengajari mereka untuk melakukan tindakan penyelamatan diri dengan benar ketika bencana itu akhirnya tiba.

Bagi Eko, memperlakukan legenda sebagai pesan dari nenek moyang mengenai tsunami juga mengangkat kembali harkat legenda itu dari berbagai bungkus yang selama ini menutupinya.

6

Soalnya, kata dia, banyak cerita turun-temurun di sejumlah daerah, yang jika dicermati, bisa dicocokkan dengan kejadian tsunami. Dari perjalanannya ke sejumlah daerah yang pernah dilanda tsunami, dia mendapati cerita yang sebenarnya merupakan pengetahuan lokal untuk menyelamatkan diri dari bencana terjangan gelombang besar.

Dia menemukan itu mulai dari Majene, Lombok, Mentawai, dan Simeulue, walaupun yang masih mengingat pengetahuan tradisional itu sebagai kiat untuk menyelamatkan diri dari terjangan tsunami itu hanya di Simeuleu.

Pengetahuan itu disebut oleh masyarakat setempat sebagai “smong”.

Bagi peneliti tsunami, Simeulue, pulau di barat daya Aceh, merupakan laboratorium sempurna mengenai tsunami. Di sana, peneliti mendapati banyak endapan tsunami, catatan gempanya lengkap, dan ada pesan nenek moyang tentang tsunami yang terus dipatuhi masyarakatnya.

Dalam buku “Selamat dari Bencana Tsunami” disebutkan bahwa Pulau Simeulue berada paling dekat dengan pusat gempa bumi 26 Desember 2004. Namun hanya tujuh orang yang meninggal akibat sapuan gelombang tsunami. Itu berkat “smong”.

“Smong” memuat pesan sederhana, namun masih dipatuhi warga Simeulue. Pesan itu berbunyi: “Jika terjadi gempa bumi kuat diikuti oleh surutnya air laut, segeralah lari ke gunung karena air laut akan naik”.

Pengetahuan tradisional itu muncul setelah tsunami 1907. Disebutkan, seringnya tsunami sebelum 1907 di pulau itu memiliki andil bagi bersemainya pengetahuan tersebut. Catatan sejarah dan penelitian geologi menunjukkan pulau itu terlanda tsunami pada 1797, 1861, dan 1907.

Menurut dia, pengetahuan serupa juga dimiliki masyarakat Mentawai, Sumetera Utara.

Banyak orang di pulau itu yang masih hafal pengetahuan yang diturunkan dalam bentuk syair. Namun, syair itu umumnya tidak lagi dipahami sebagai warisan untuk menghadapi tsunami.

Itu karena kata “teteu”, judul syair tersebut, diartikan sebagai “kakek”, walau bisa juga diartikan sebagai “gempa bumi”.

Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, syair itu berbunyi: Teteu, sang tupai bernyanyi/Teteu, suara gemuruh datang dari atas bukit-bukit/Teteu, ada tanah longsor dan kehancuran/Teteu dari ruh kerang laut sedang marah/karena pohon baiko telah ditebang/Burung kuliak bernyanyi/Ayam-ayam berlarian/Karena di sana teteu telah datang/Orang-orang berlarian.

Di sana, kata “teteu” lebih diartikan sebagai “kakek”, sehingga maknanya jauh dari bencana. Sedangkan, jika “teteu” diganti dengan “gempa bumi”, maknanya akan lebih kuat.

Terbungkusnya pesan inti yang terkandung dalam pengetahuan lokal di Mentawai itu disebut sebagai kecenderungan yang ada di banyak daerah. Salah satu faktornya, tidak ada catatan yang bisa diwariskan oleh generasi yang lahir jauh hari setelah tsunami terjadi.

Apalagi, tsunami raksasa umumnya terjadi ratusan tahun sekali, sehingga cerita turun-temurun yang diwariskan berubah menjadi legenda yang penafsirannya bisa berbeda dari maksud semula. Ketika tsunami raksasa datang suatu kali, tidak ada lagi orang yang pernah mengalaminya, sehingga syair turun-temurun itu diturunkan sekadar warisan.
7

Menurut Eko, mengaitkan pengetahuan lokal dengan penelitian tsunami purba merupakan kesengajaan yang dilakukannya. Soalnya, selama ini catatan sejarah yang dimiliki Indonesia sangat pendek, dan tidak ada catatan yang menyebut gelombang raksasa yang terjadi 400 tahun lalu, misalnya. Yang banyak ditemukan justru cerita turun-temurun yang bisa ditafsirkan sebagai pesan tentang tsunami.

Dengan mengumpulkan dan mempelajari pengetahuan tradisional, diharapkan membantu analisis kejadian tsunami di masa lalu.

Mengetahui tsunami masa lalu, katanya, akan membantu masyarakat sekitar untuk bereaksi secara tepat ketika menghadapi bencana serupa pada masa datang.

Eko mengatakan, penelitian tsunami di Meulaboh dan Thailand selatan menghasilkan temuan yang mengejutkan. Temuan yang dipublikasikan secara bersamaan dalam terbitan jurnal ilmiah internasional “Nature” edisi Oktober itu menunjukkan bahwa tsunami raksasa serupa dengan yang terjadi pada 2004 pernah terjadi di Aceh beberapa ratus tahun yang lalu.

Seandainya temuan itu sudah terungkap sebelum tahun 2004, katanya, maka usaha untuk menekan jumlah korban jiwa dan kerugian mungkin dapat dilakukan.

Untuk menekan kerugian seperti itu pula, menurut Eko, upaya penelitian paleotsunami harus ditingkatkan kapasitasnya. Upaya itu tidak lain untuk mengambil pelajaran dari kejadian masa lalu, termasuk dari penggalian daerah tsunami dan pengetahuan tradisional yang melingkupinya,

Menurut dia, selama ini penelitian serupa tidak sebanding dengan jumlah tsunami yang pernah terjadi di negeri ini. Hal itu bisa dilihat dari jumlah peneliti yang terjun dalam penelitian tsunami yang masih sedikit.

Maka, selain menggali tanah di daerah-daerah yang pernah dilanda tsunami untuk mencari bukti tsunami purba, Eko pun rajin menggali cerita lokal, yang mungkin ada kaitannya dengan gelombang besar yang senang masuk ke daratan itu.

National Geophysical Data Center mencatat, sebanyak 217 kali tsunami telah terjadi di Indonesia antara tahun 1608 dan 2008, baik skala kecil maupun besar. Khusus di Nanggroe Aceh Darussalam, tsunami besar pernah terjadi tiga kali, yakni pada tahun 1797, 1861, dan 1907.
Demikian salah satu hal yang mengemuka dalam ”Workshop on the Application of Paleotsunami Science to Tsunami Mitigation in Indonesia” yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan AusAid di Bandung, Sabtu (8/11).
Geolog United State Geological Survey (USGS), Brian F Atwater, salah satu peneliti yang mengungkapkan sejarah tsunami di Thailand dan Nanggroe Aceh Darussalam 2004 (dimuat di jurnal Nature terbaru) menyatakan, geologi merekam sangat baik malapetaka di bumi. Hasil penelitiannya dua tahun terakhir, tsunami besar menghantam Thailand dan Aceh 600 tahun silam.
Bahkan, penelitiannya mampu membaca jejak tsunami hingga ribuan tahun silam. Lapisan sedimentasi pesisir Aceh, misalnya, menunjukkan tsunami besar pernah tiga kali terjadi di kawasan tersebut, yakni pada tahun 1797, 1861, dan 1907.
8
Sistem peringatan dini dalam kegiatan tersebut juga terungkap, Indonesia sebagai negara kaya potensi bencana geologi memerlukan berbagai model sistem peringatan dini untuk melindungi warganya. Peringatan dini tsunami secara geologis, misalnya, dinilai masih menjadi ”anak tiri” dibandingkan dengan sistem berbasis teknologi tinggi.
”Secara alami, ada sistem peringatan dini nonperalatan untuk mendeteksi tsunami,” kata peneliti tsunami purba (Paleotsunami) LIPI, Eko Yulianto.
Peringatan dini secara alami itu, di antaranya, fenomena gempa bumi dan aktivitas gunung berapi, yang umumnya mendahului tsunami, seperti tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam.
Paleotsunami seperti paleoseismologi dan paleogeodetik menganalisa sejarah tsunami. Paleotsunami meneliti sejarah melalui analisa dampaknya di pesisir pantai, sedangkan paleoseismologi dan paleogeodetik menganalisa penyebab tsunami dan kemungkinan terjadi kembali.
”Semuanya dapat digunakan untuk menyadarkan komu- nitas tentang tsunami yang pernah dan akan terjadi di tempat mereka,” tutur ahli geologi pada Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Danny Hilman Natawidjaja. Sejak 15 tahun lalu, Danny meneliti sejarah gempa dan tsunami di pesisir barat Sumatera. Sementara itu, Eko memulai penelitian paleotsunami tahun 2005.

Yucatan Peninsula, Meksiko (65 Juta SM)
Berdasarkan peninggalan dan jejak yang ditemukan, kira-kira 65 juta tahun yang lalu, di akhir masa Cretaceous, telah terjadi tumbukan meteorit besar di daerah Yucatan Peninsula, Meksiko. Jejak yang ditinggalkan kira-kira sepanjang teluk Meksiko dan AS. oleh karena itu sang meteorit mungkin boleh jadi seluas WashingtonDC. Sementara peninggalan yang hingga kini masih bisa dilihat adalah beberapa bongkah batu pasir di puncak bukit di wilayah Arkansas. Terletak sekitar 120 Km sebelah Timur Laut Little Rock.
Santorini, Yunani (1650-1600 SM)
Perlu diketahui bahwa Santorini adalah pulau vulkanik di Laut Aegean, sekitar 75 km sebelah Tenggara Yunani. Antara tahun 1650 dan 1600 SM, gunung di sini dikabarkan meletus danmemicu Tsunami setinggi 100-150 m. Hempasannya menghancurkan pesisir utara pulau Kreta sejauh 70 km, ternasuk armada Minoan di sepanjang pantai utara pulau Kreta.
Lisbon, Portugal (1755)

Gempa tersebut memicu tsunami di Samudra Atlantik. Sedemikian hebatnya sampai menyebabkan kebakaran di berbagai daerah. Korban tewas mencapai 100.000 orang atau lebih dari sepertiga penduduk Lisbon.
Bencana ini untukpertama kalinya meninggalkan catatan mengenai fenomena yang berkaitan dengan banyak binatang. Mereka diduga merasakan bahaya dan berhamburan sebelum tsunami datang.

9

Krakatau, Indonesia (26 Agustus 1883)

Krakatau dulunya merupakan pulau vulkanik di selat Sunda. Pada tanggal 26 Agustus 1883 pulau ini meletus dan menimbulkan bencana yang luar biasa. Letusannya diperkirakan setara dengan 200 megaton TNT sehingga sebagian pulau hancur, bahkan lenyap dari permukaan laut. Tsunami yang terjadi diperkiran sangat dasyat dengan tinggi gelombang lebih dari 40 meter. korban tewas akibat letusan ini sekitar 36 ribu jiwa, tapi yang tewas akibat tsunaminya tidak diketahui. Tsunami yang terjadi menjalar sampai ke daratan Jawa dan Sumatra, bahkan mencapai wilayah samudra hindia, Pasifik, Amerika Utara, pesisir barat AS, serta terusan Inggris.

Jepang (1605-1993)

Jepang merupakan daerah yang paling sering terjadi tsunami, berikut catatannya:
1605
menghantam Nankaido, menewaskan 5.000 orang
1703
menerpa Awa, melelan sekitar 100 ribu orang
di tahun yang sama juga menerjang daerah Tokaido-Kashima, menewaskan 5.233 orang.
1707
menerjang daerah Tokaido-Nankaido, menewaskan 30 ribu orang
1771
menghantam daerah Ryukyu, menewaskan 13.486 orang
1792
menghantam barat daya kyusu, menewaskan 15 ribu orang
1829
tidak diketahui menerjang daerah mana tetapi menewaskan 27 ribu orang
1896
Menerjang Sanriku kurang lebih 20.000 orang tewas dalam peristiwa ini
1933
Menghantam Sanriku menewaskan 3.008 orang
1960
Menyapu Onagawa, menewaskan 122 orang
1993
menerjang Okushiri, menelan korban 202 orang.

Berikut ini gempa bumi dahsyat dan gelombang Tsunami, intensitas, lokasi, dan jumlah korban tewas yang terjadi tahun 1556 hingga 2006:
Tahun 1775
Gempa mengguncang Lisabon. Pusat gempa di perairan Atlantik Utara, menyebabkan gelombang tsunami setinggi tujuh meter yang menghantam Portugal, Spanyol dan Afrika Utara, menyebabkan 60.000 korban jiwa.
10 April 1815
Gunung Tambora yang berada di Pulau Sumbawa, NTB meletus. Letusannya setara dengan enam juta kali kekuatan bom atom. Selain menelan 100.000-an korban jiwa, semburan asapnya juga mencapai ketinggian 44 kilo meter dan mengakibatkan gelombang tsunami setinggi empat meter.
10
Gelap gulita selama tiga hari akibat pekatnya debu terjadi dalam radius 600 kilo meter dari pusat letusan. Sementara itu, di bumi belahan utara, suhu turun hingga 0,7 derajat Celcius. Penduduk Eropa dan Amerika Utara pun harus merelakan satu musim panas di tahun itu. Perubahan cuaca yang drastis ini menyebabkan penyebaran wabah penyakit dan kelaparan akibat gagal panen di seluruh dunia.
27 Agustus 1883
Meletusnya Gunung Krakatau, gunung api bawah laut di Selat Sunda. Aktivitas gunung diawali 20 Mei 1883 berupa semburan abu dan uap setinggi 11 km dan suaranya terdengar sejauh 200 km. Puncaknya pada 27/8/1883 yang dentumannya terdengar hingga Singapura dan Australia. Erupsi menyemburkan batu apung dan abu setinggi 70-80 km, yang endapannya menempati area 827.000 km persegi. Runtuhan gunung api ini menimbulkan tsunami setinggi 20 m. Gelombang pasang itu menyebar hingga 120 km dari pusat letusan, diperkirakan sedikitnya 36.417 jiwa lenyap dan desa-desa di kepulauan sekitarnya musnah binasa.
31 Januari 1906
Gempa di Ekuador berkekuatan 8,8 Skala Richter di dekat pantai Ekuador dan Kolombia, memicu gelombang tsunami besar yang menewaskan 1.000 orang. Getaran gempa terasa sampai di seluruh pesisir pantai di Amerika Tengah, San Francisco dan Jepang.
1 Februari 1938
Gempa berkekuatan 8,5 Skala Richter terjadi di Laut Banda, Indonesia, memicu gelombang tsunami yang menyebabkan kerusakan di Banda dan Kai.
4 November 1952
Gempa 9 Skala Richer terjadi di timur semenanjung Kamchatka, Rusia, memicu gelombang tsunami di Hawai.
9 Maret 1957
Gempa berkekuatan 9,1 Skala Richter terjadi di Alaska. Gunung Vsevidof di pulau Umnak, kepulauan Andreinof meletus –setelah tidur 200 tahun– menimbulkan gelombang tsunami setinggi 15 meter yang sampai ke Hawai.
22 Mei 1960
Gempa terbesar yang tercatat dalam sejarah sebesar 9,5 Skala Richter terjadi di Chile. Menghancurkan Santiago dan Cencepcion. Gempa ini memicu gelombang tsunami dan letusan gunung berapi, sekitar 5.000 orang tewas dan dua juta orang kehilangan rumah.
4 Februari 1964
Gempa di Alaska berkekuatan 8,7 SR memicu gelombang tsunami setinggi 10,7 meter di pulau Shemya.

11
26 Desember 2004
Gempa bumi tektonik berkekuatan 8,5 SR berpusat di Samudra India (2,9 LU dan 95,6 BT di kedalaman 20 km (di laut berjarak sekitar 149 km selatan kota Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam). Gempa itu disertai gelombang pasang (Tsunami) yang menyapu beberapa wilayah lepas pantai di Indonesia (Aceh dan Sumatera Utara), Sri Langka, India, Bangladesh, Malaysia, Maladewa dan Thailand.

Menurut Koordinator Bantuan Darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jan Egeland, jumlah korban tewas akibat badai tsunami di 13 negara (hingga minggu 2/1) mencapai 127.672 orang. Namun jumlah korban tewas di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Afrika Timur yang sebenarnya tidak akan pernah bisa diketahui, diperkirakan sedikitnya 150.000 orang.PBB memperkirakan sebagian besar dari korban tewas tambahan berada di Indonesia. Pasalnya, sebagian besar bantuan kemanusiaan terhambat masuk karena masih banyak daerah yang terisolir.

Sementara itu data jumlah korban tewas di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara menurut Departemen Sosial RI (11/1/2005) adalah 105.262 orang. Sedangkan menurut kantor berita Reuters, jumlah korban Tsunami diperkirakan sebanyak 168.183 jiwa dengan korban paling banyak diderita Indonesia, 115.229 (per Minggu 16/1/2005). Sedangkan total luka-luka sebanyak 124.057 orang, diperkirakan 100.000 diantaranya dialami rakyat Aceh dan Sumatera Utara.
17 Juli 2006
Gempa melanda pantai selatan Pulau Jawa pada Senin (17/07) dan membuat air laut surut hingga satu meter selama sekitar tujuh menit, sekitar 20 menit sejak gempa tersebut terjadilah tsunami setinggi tiga hingga empat meter dan sampai ke darat bahkan ada yang mencapai enam meter.Berdasarkan data United States Survey Geological (USGS) gempa terjadi Senin pukul 15.19 WIB itu berkekuatan 7,2 Skala Richter (SR) dan lokasi episentrum gempa sendiri berada sekitar 260 km arah selatan Kota Bandung di 9,295 LS dan 107,347 BT dengan kedalamannya 48 kilometer.

Sementara itu data Kantor Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menyatakan gempa berpusat pada 9,41 Lintang Selatan dan 107,19 Bujur Timur, tepatnya di pantai selatan Jawa, Samudera Hindia berjarak 620 kilometer dari Bandung ke arah Selatan dan berkedalaman 33 kilometer dari permukaan laut dengan kekuatan gempa mencapai 6,8 skala richter.
Menurut catatan Sekretaris Menko Kesra pada Selasa (18/07), jumlah korban meninggal mencapai 341 orang, sedangkan korban hilang sekitar 229 orang. Korban meninggal terbanyak ada di Jawa Barat yaitu berjumlah 239 orang terdiri atas Ciamis atau Pangandaran sebanyak 182 orang, Tasikmalaya 54 orang dan Banjar tiga orang. Sedangkan Jawa Tengah berjumlah 102 orang yang terdiri dari Cilacap 91 orang, Kebumen tujuh orang dan Gunung Kidul empat orang.
12 september 2007
Terjadi gempa bumi di sekitar Bengkulu berkekuatan 7,9 skala richter, berpotensi menimbulkan tsunami, namun sampai 2 jam tidak terjadi tsunami. korban meninggal sampai tgl 13 berjumlah 7 jiwa.

12

Puji syukur senantiasa saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, karena atas rahmat dan karunia yang telah diberikan, saya dapat menyusun Kliping Perilaku Menyimpang ini. Materi makalah ini berasal dari beberapa sumber di koran. Saya berusaha mencarinya untuk menyelesaikan tugas Sosiologi ini.

Makalah ini mencakup ruang lingkup dari beberapa aspek-aspek perilaku menyimpang di berbagai kawasan. Dengan memahami beberapa aspek-aspek ruang lingkup tersebut, diharapkan kita dapat mengerti dan memahami apa-apa saja contoh perilaku menyimpang itu dan mengapa perilaku menyimpang itu bisa terjadi.

Semoga kliping ini dapat memberikan konstribusi positif dan bermakna bagi yang membacanya. Dari lubuk hati yang paling dalam, sangat disadari bahwa kliping ini sangat jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun sangat saya harapkan.

Terima kasih.

103 TKI Ilegal Dipulangkan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1

16 Ton Pupuk Bersubsidi Diamankan dan Tedjo: Pelaku Korupsi
Tetap Akan Ditindak . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2

Pengedar 200 Butir Ekstasi Ditangkap . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3

Berkas Pemilik 15 Kg Ganja Belum Dilimpahkan . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4

Delapan Pasang Muda-Mudi Diamankan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5

1.065 Batang Kayu Ilegal Disita Polisi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6

Perhiasan Seludupan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7

KPK Harus Tangkap Anggota Dewan yang Menerima Aliran
Dana BI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8

Danny Setiawan Jadi Tersangka dan Penebangan Liar Resahkan
Masyarakat Lemong dan Pesisir Utara . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9

KPK Kejar 7 Daftar Dosa Di Soppeng . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 10

Polisi Buru Pemasok Inek . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11

Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12

Perilaku menyimpang banyak sekali terjadi di dunia, contohnya saja di Indonesia. Di Indonesia sering sekali terjadi perbuatan-perbuatan yang menyimpang, seperti TKi illegal, kayu ilegal, pelaku korupsi, pengedar narkoba, membajak Software, dan masih banyak lagi. Perbuatan-perbuatan tersebut dilakukan semata-mata hanya karena masalah ekonomi, seperti kurangnya biaya untuk mencukupi kebutuhan keluarga atau kebutuhan hidupnya. Ada juga yang dilakukan atas dasar kesenangan pribadi, seperti para koruptor yang mengambil uang Negara hanya untuk kepentingan pribadi, dan pengedar atau pemakai narkoba yang rela mengorbankan apapun demi mendapatkan barang haram tersebut hanya untuk menyakiti dirinya sendiri, tetapi hal tersebut membuat mereka puas.
Perilaku menyimpang ini tidak hanya merugikan atau memalukan Negara, tetapi juga meresahkan masyarakt atau warga sekitar. Contoh perilaku yang merugikan Negara adalah pelaku tindak korupsi atau koruptor, adanya kayu illegal dan TKI illegal, serta perbuatan membajak Software, dan contoh perilaku yang juga meresahkan masyrakat atau warga adalah pengedar narkoba, karena dengan adanya pengedar narkoba mereka takut apabila anak atau orang-orang terdekat mereka ikut terjerumus menjadi pemakai obat-obatan terlarang.
Semua perilaku menyimpang atau perbuatan-perbuatan menyimpang perlu dihindari, karena perbuatan tersebut tidak baik buat diri sendiri dan juga tidak baik bagi orang lain. Perbuatan-perbuatan ini tidak perlu dilakukan, karena masih banyak perbuatan-perbuatan baik atau yang lurus yang bisa dilakukan tanpa harus melakukan perbuatan yang menyimpang. Perilaku menyimpang ini banyak terjadi disemua kawasan dan yang melakukannya pun dari semua kalangan. Perilaku yang tidak baik ini harus dijauhkan dan tidak perlu dipertahankan, karena akan merusak diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: